Halaman ini sudah dilihat oleh: 2845 orang,

Empat tingkat pemahaman Kata

Tahu pada nan Empat Tingkat Pemahaman Kata

                  1. Tingkat konvensi/kesepakatan
                  2. Tingkat pengertian majas/kiasan
                  3. Tingkat paham/pemahaman
                  4. Tingkat Pengertian meta-bahasa


1. Tingkat konvensi/kesepakatan arti denotatif.
Pada tingkat ini digunakan buku tandon yang dinamakan kamus.
Contoh: Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Balai Pustaka, 2005, sendi adalah:
(1). hubungan yang terbentuk antara tulang;
(2). tempat bersambung (perhubungan) antara dua bagian barang;
(3). simpai (bingkai) sebagai penyalut,.-- sendi adalah
(1). Batu peng-alas atau pengganjal tiang rumah dsb;
(2). alas, dasar, asas.--- bersendi = memakai batu sendi, berdasarkan pada, berpedoman pada, berasaskan pada--- bersendikan v bersendi.
Pada kamus dwi (dua) bahasa Indonesia-Minang, padanan atau kesamaan sendi (Indonesia) adalah sandi (Minang).
Itulah konvensi terakhir tentang kata sendi/sandi.
Belum ada perubahan kesepakatan.

2. Tingkat pengertian majas/kiasan/konotatif.
Pada tingkat ini konvensi tidak diikatkan kepada kamus, tapi pada konvensi sosial atau sesuai konteks sosial.
Ada suasana psikologis pemakai bahasa yang menentukan arti.
Contoh:
Sangkutan baju, arti denotatifnya: tempat menyangkutkan baju.... tapi arti majas/kiasan/konotatifnya: rumah/istri.
Induak bareh: (induk beras) tidak ada arti denotatifnya, kalau diurai malah jadi salah arti....disini yang ada cuma arti majas/kiasan: istri
Kalau diskusi pada tingkat pengertian kedua ini, maka sendi/sandi tidak lagi dapat hanya menggunakan makna denotatif.
Kata itu berada dalam konteks sosial.
Ada konvensi /kesepakatan sosial yang menyebabkan kata itu dipakai.
Pada tingkat ini Adat bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabbullah (ABS-SBK) dapat disepakati secara sosial sebagai: landasan, alas, dasar: merujuk kepada.

3. Pengertian tingkat paham/pemahaman.
Tingkat ini, melewati pengertian konotatif apalagi pengertian denotatif.
Kata tidak lagi membawa makna harfiah.
Kata hanya bingkai tempat meletakkan suatu paham, suatu kearifan.
Ijinkan saya mengutip salah satu ayat Al-Qur'an, karena ayat Al-Qur'an sangat sarat dengan pengertian yang lebih tinggi ini.
... ketahuilah bahwa Aku (Allah) lebih dekat dari urat lehermu.......potongan ayat ini tidak dapat dimaknai dengan arti konotatif apalagi denotatif.
Tidak perlu konvensi/kesepakatan sosial untuk memahami nya.
Pengertian hanya dapat diperoleh dengan suatu pemahaman.
Kata kata itu semua memberi sebuah pemahaman.

....Mari bertanya kepada rumput yang bergoyang... kata Ebiet.
....Satitiak aia dalam pinang, sinan baranang ikan rayo...
Semua kata itu tidak membawa makna konotatif apalagi denotatif.
Kata kata itu menjadi rumah bagi sebuah pemahaman.

4. Pengertian meta-bahasa (melewati atau di atas bahasa)
Ini metode kajian ilmu filsafat sastra;
ilmu/filsafat komunikasi;
ilmu/filsafat bahasa; untuk menangkap totalitas pengertian dalam satu rangkaian wacana.

Salah satu metodenya: Analisis Wacana Kritis.
Memahami totalitas sebuah wacana tidak sama dengan menguraikan bagian bagian wacana.
Pemenggalan akan merubah pemahaman totalitas.

Sekali lagi, ijinkan saya mengutip contoh ayat: Surat Al-Ma'un:
(1)Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
(2) Itulah orang yang menghardik anak yatim,
(3) dan tidak menganjurkan memberi makan fakir miskin.
(4) maka celakalah bagi orang yang sholat
(5) (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya,
(6) orang yang berbuat riya,
(7) dan enggan (menolong dengan) barang yang berguna.

Ketujuh ayat ini tidak dapat diambil pengertian ayat per-ayat.

Membaca hanya ayat (4) maka celakalah bagi orang yang sholat !.... Bisa salah kaprah, orang shalat kok celaka.
Membaca hanya ayat (4) dan (5) saja akan membuat orang lupa dengan lingkungan, menghabiskan hari harinya untuk shalat saja.

Saya menanggap ABS-SBK harus dipahami secara holistik/komprehensif/ menyeluruh tidak dipenggal-penggal, apalagi memperdebatkan makna denotatif satu kata sendi/sandi saja.....akan kacau !

ABS-SBK perlu dibaco sakali lacuik (sekali lecut), tidak diberi jeda, kalau tidak ingin barubah pahamnyo.
Saya membacanya seperti ini:
Adat basandi syarak, Syarak basandi kitabullah, Adat babuhua sentak, syarak babuhua mati

Adat berbuhul sentak, saya pahami adat diikatkan/dirujuk kepada syarak secara luwes, sesuai dengan pemakaian sandi pada rumah gadang.

Syarak babuhua mati, diikatkan/dirujuk secara permanen kepada kitabullah Al-Qur'an.
Tidak ada kitabullah lain tempat mengikatkan/merujuk syarak, karena syarak disini Islam.

Menurut saya: yang qadim itu kitabullah.
Syarak itu luwes, karena syarak adalah hasil penjelasan ulama terhadap Qur'an dan Sunnah.
Syarak di Minangkabau adalah Mazhab Syafi'i.
Syarak di Afrika Maliki.

Kalau di Afrika semua hewan dimakan oleh Muslim, kecuali babi/khinzir.
Biawak, ular, kodok, dllsb. halal dalam mazhab Maliki.
Mazhab Maliki diterima di Afrika, karena disana peternakan sulit berkembang.

Di Minangkabau (Indonesia umumnya) peternakan mudah.
Maka Syafi'i yang mengharamkan hewan hewan tadi, lebih diterima.
Inilah syarak yang luwes, yang dapat dipilih sesuai dengan situasi keadaan alam dan masyarakat.

Inilah sandi yang dapat diasak/diganti pada rumah yang sudah berdiri.
Inilah syarak yang relatif, dapat menjawab kebutuhan hidup masyarakat.
Islam diterima karena mampu mengayomi situasi/kondisi masyarakat.
Syarak yang luwes juga pada tataran urf kebiasan hidup.
Syarak hanya memerintahkan wajib menutup aurat.
Pakai sarung, celana panjang, galembong, gamis, jubah, .....terserah !

Syarak yang luwes masih berlaku di Minangkabau, bahkan dalam ibadah mahdhah, ibadah inti.
Shalat Subuh dua rakaat......semuanya sama !

Dalam rukun rukun shalat terjadi variasi:
Al-Fathihah memakai basmalah dijahrkan, di siir kan, atau tidak pakai basmalah sama sekali.

Ada yang membaca do'a qunut, ada yang tidak.
Inilah yang saya pahami sebagai: Adat babuhua sentak terhadap syarak, syarak yang luwes bagi pemakainya.

Mereka yang tidak suka kodok, biawak, silakan berimam kepada Imam Syafi'i.
Yang terpaksa makan karena berbagai alasan (kemiskinan misalnya) ada mazhab Maliki untuk diikuti.
Mereka yang shalat dengan sarung, kupiah tidak perlu terganggu dengan mereka yang bercelana panjang.
Warga Muhammadiyah tidak perlu dilarang shalat di masjid warga yang biasa berqunut.

Syarak perlu selalu diaktualkan untuk menghadapi tantangan perubahan, untuk menjawab keraguan umat seperti: hukum bunga bank, hukum inseminasi buatan, keluarga berencana, dan berbagai perubahan di tengah masyarakat.

Disini lah pemahaman meta-bahasa dari ABS-SBK
Syarak perlu selalu diaktualkan, tapi rujukannya tetap (berbuhul mati) kepada Al-Qur'an.

Sumber: Tuanku Mangkudun

Kalau Dunsanak setuju dengan pesan Tahu pada nan Empat ini, tolong di Like & Send atau di Tweet

Tweet

Kembali ke daftar judul     Kembali ke Halaman Utama