Halaman ini sudah dilihat oleh: 1177 orang,

Nan kriteria untuk paradigma orang yang sebenarnya orang *
1. Memiliki tingkat Intelligence Quotient (IQ)
2. Memiliki tingkat Emotional Quotient (EQ)
3. Memiliki tingkat Creativity Quotient (CQ)
4. Memiliki tingkat Religiousity Quotient (RQ)

Menurut Hasan Shadily dalam Kamus Inggris Indonesia; arti quotient ialah hasil bagi.
Paradigma ialah contoh atau pertanyaan yang terus menerus mendasari penyelidikan untuk beberapa lama sebelum dapat terjawab dan sepanjang penyelidikan menyebabkan hasil lain sebagai sambilan.

Dulu orang beranggapan bahwa apabila seseorang mempunyai tingkat kecerdasan (IQ) yang tinggi, maka dia akan sukses pula dalam kehidupannya.
Ternyata anggapan ini tidak benar, karena banyak orang yang mempunyai tingkat IQ tinggi dalam bekerja mempunyai karir biasa-biasa saja.
Tingkat kecerdasan tiap orang pada kenyataan sehari-hari, merupakan perbedaan waktu, saat mereka menjawab soal-soal atau memecahkan permasalahan-permasalahan.
Tapi unsur kecepatan ini tidak sama dengan tes IQ.

Ada unsur lain lagi yang mesti diperhatikan.
Sebagai contoh, bila beberapa orang cerdas diberi soal-soal yang sangat sulit, maka keberhasilan pemecahan soal tersebut akan sangat dipengaruhi oleh daya tahan, kemauan masing-masing orang.

Mereka yang mempunyai kemauan kuat, meskipun agak kurang cerdas dapat saja menyelesaikan soal yang sulit dan sebaliknya ada orang yang cerdas tapi ceroboh, cepat putus asa, maka dia tidak akan mampu menyelesaikan soal tersebut.

Disinilah peranan kepribadian, tingkat kematangan emosi Emotional Quetient (EQ) sangat diperlukan.
Kenyataan hidup menunjukkan bahwa orang yang kurang cerdas tetapi tabah, pantang putus asa (sabar) dalam menghadapi tantangan hidup, kadang-kadang jauh lebih sukses dibandingkan dengan orang yang cerdas.

Abad 21 merupakan abad keterbukaan informasi dan globalisasi perdagangan.
Hal ini menimbulkan keutungan dan sekaligus ancaman (threat) terhadap kehidupan pribadi, kehidupan berkeluarga, kehidupan bertetangga, kehidupan berbangsa serta bernegara.

Hanya orang yang mempunyai Creativity Quotient (CQ) saja yang mampu mengubah ancaman (threat) menjadi tantangan (challenge) dan seterusnya dijadikan peluang (oportunity).
Daya kreativitas inilah yang dapat membangkitkan semangat percaya diri serta optimisme.

Selanjutnya yang sangat menentukan keberhasilan manusia ialah Religiousity Quotient (RQ).
Tolok ukur RQ, yang paling utama ialah sifat amanah/memegang teguh janji serta istiqamah/konsisten dalam kehidupan sehari-hari; selalu mengajak pada kebaikan dan menjauhi kejahatan.

IQ saja tak menjamin sukses
EQ, CQ, RQ harus dimiliki
Empat kemampuan harus diakses
Supaya hidup tidak merugi

Tiap Quetient peranannya seperempat
Dalam kehidupan yang berhasil
Lain orang, bebeda bakat
Apapun usaha jangan disambil

Banyak ilmu tak diajarkan di sekolah
Perlu metode mencari yang benar
Analisa dulu perbuatan salah
Gunakan telinga, seringlah mendengar

Mencontoh kepada yang lalu
Ambil hikmah dari yang salah
Orang korupsi selalu berilmu
Walau tidak diajarkan di sekolah

Mereka yang lakukan delik korupsi
Perasaan emosi harus stabil
Sabar menunggu kesempatan situasi
Agar curian membawa hasil

Harga diri menjadi murah
Bila kreativitas disalahgunakan
Celah hukum modal menjarah
Memaling-mencuri tiada sungkan

Karena iman sekadar percaya
Kerja usaha tak bermanfaat
Walau di dunia kaya-raya
Di akhirat nanti mendapat laknat

Untuk menciptakan manusia pemikir
Serta bukti kasih sayang
Seratus tahun sebelum bayi lahir
Didiklah dahulu nenek moyang

Kalau Dunsanak setuju dengan pesan Tahu pada nan Empat ini, tolong di Like & Send atau di Tweet

Tweet

Kembali ke daftar judul     Kembali ke Halaman Utama