Halaman ini sudah dilihat oleh: 3734 orang,

Menurut adat yang teradat, menggadaikan harta pusaka (berhutang), hanya untuk mengatasi nanmasalah

1. Membangkit batang terendam
2. Gadis tua tidak bersuami
3. Mayat terbujur di tengah rumah
4. Rumah gadang ketirisan

Secara tradisi atau adat nan teradat, yang disebut harta pusaka oleh orang Minang Kabau ialah sawah dan ladang.
Ladang = tanah
Sawah = air.
Asal kata istilah: tanah air.

Bandingkan dengan orang Barat, mereka tak mengenal istilah tanah air, tetapi motherland atau tanah ibu.
Sumber penghasilan masyarakat tradisional ini diwariskan berdasarkan garis keluarga ibu.
Yang mempunyai hak milik atas sawah dan ladang (tanah - air) adalah anak perempuan dari ibunya, seterusnya diwariskan ke bawah melalui garis ibu.

Anak laki-laki diberi hak pakai saja dan berkewajiban menjaganya atau berusaha merantau ke luar kampung.
Secara fisik/normal, laki laki lebih kuat daripada perempuan

Keberadaan atau eksistensi suatu kaum (keluarga besar di Minang Kabau) ditandai dengan empat materi yang dimiliki yaitu rumah gadang, sawah ladang, pandam pekuburan dan tepian tempat mandi.

Sawah-ladang atau tanah dan air, merupakan sumber kehidupan manusia serta lambang martabat suatu kaum.
Budaya adat Minang Kabau melarang orang menjual sawah-ladang yang berasal dari pusaka moyangnya; hakekatnya seseorang dilarang untuk menjual tanah-air atau tanah tumpah darahnya

Harta pusaka tinggi, bukanlah hasil jerih payah kita, akan tetapi hasil usaha nenek moyang:

Dijual tak dimakan beli, digadai tak dimakan sandera.

Bukankah penjajahan selalu dimulai dari penguasaan/pemilikan tanah oleh orang/bangsa asing.
Menggadai adalah tindakan darurat, dimana hak kepemilikan atas tanah tetap pada pemilik.
Dari tanah kita diciptakan, ke dalam tanah kita dikembalikan

Membangkit batang terendam
Membangkit batang terendam diibaratkan mengeluarkan batang pohon yang terendam air.
Bila tidak cepat-cepat dikeluarkan, maka batang ini akan menjadi busuk.
Identik dengan batang terendam, maka martabat kaum yang terendam harus segera dikeluarkan pula, supaya posisinya duduk sama rendah, tegak sama tinggi dengan kaum-kaum lainnya.
Martabat kaum yang dimaksud ialah gelar pusaka yang dimiliki kaum.
Sekarang ini, pengertian tersebut bisa diperluas dengan gelar akademik bidang ilmu pengetahuan.
Prestasi akademik seseorang sangat menentukan statusnya di dalam pergaulan masyarakat.

Gadis tua tak bersuami
Perempuan dalam struktur masyarakat Minang Kabau memiliki kedudukan lebih dari laki-laki, sehingga anak perempuan dan para ibu harus didukung dengan harta pusaka.
Faktor pendukung lainnya yang tidak kalah pentingnya ialah suami yang akan melindungi kehidupannya.
Segala upaya diusahakan agar anak perempuan mendapatkan suami yang terbaik.
Di dalam budaya adat Minang Kabau, seorang ibu yang tidak memiliki anak perempuan, disebut sebagai kaum yang punah.
Tidak ada orang perempuan yang akan menerima hak Pusaka Tinggi dari kaum tersebut.

Mayat terbujur di tengah rumah
Dahulu untuk menguburkan dan mendoakan anggota kaum-keluarga yang meninggal dibutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Kini biaya-biaya tersebut sudah jauh berkurang.
Satu hal yang perlu diingat tentang kewajiban si pewaris mayat terbujur tersebut, yaitu utang-utangnya.
Utang si mayat harus segera dilunasi, meskipun dengan cara menggadaikan harta-pusaka.

Rumah gadang ketirisan
Rumah gadang adalah lambang eksistensi kaum yang harus dipelihara keadaannya, jangan sampai rusak, ketirisan.
Bila saat ini rumah gadang tidak lagi berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga, namun apabila rumah tersebut tetap dijaga, maka masyarakat akan tetap mengakui bahwa keluarga itu masih menjadi bagian dari warganya.

Identik dengan rumah gadang, dalam masyarakat moderen di kota-kota, rumah masih tetap dijadikan lambang prestasi kaum-keluarga.
Saat ini kepemilikan atau perbaikan rumah sudah biasa menggunakan fasilitas utang (pegang-gadai) dari bank.

Nabi bersabda: Rumahku, istanaku
Untuk menegakkan harga diri
Tempat menyimpan baju dan buku
Serta mengatur anak istri

Lingkungan tetangga cari yang enak
Supaya keluarga betah di rumah
Tidak seperti kucing beranak
Setiap saat berpindah-pindah

Kalau Dunsanak setuju dengan pesan Tahu pada nan Empat ini, tolong di Like & Send atau di Tweet

Tweet

Kembali ke daftar judul     Kembali ke Halaman Utama