Halaman ini sudah dilihat oleh: 10273 orang,

Tahu pada silabus/ tingkatan/ maqom ilmu keagamaan menurut ahli tasawuf

1. Pemahaman syari'at
2. Pemahaman tarekat
3. Pemahaman hakikat
4. Pemahaman makrifat

Tasawuf adalah ajaran atau kepercayaan bahwa pengetahuan kepada kebenaran dan Allah dapat dicapai dengan jalan penglihatan batin, renungan dsb.
Ilmu tasawuf disebut juga sebagai ilmu suluk atau ilmu tarekat.

Dalam perkembangan peradaban di dunia yang semakin bersifat materialisme, ketika manusia memenuhi kebutuhan hidupnya yang makin beragam dan meningkat, maka banyak terjadi keguncangan hati serta ketidakstabilan jiwa.

Oleh karena itu terasa pentingnya bimbingan rohani dengan tuntutan agama.
Agama Islam, sebagai jalan untuk menuju keselamatan di dunia dan di akhirat kadang-kadang dipahami sebagai indoktrinasi-indoktrinasi yang kaku.
Dalam banyak kejadian sering diucapkan kata-kata kafir, halal, haram, murtat, tanpa memahami hakekatnya.

Ilmu tasawuf berupaya untuk menuntun manusia menuju ketenangan jiwa yang disebut sakinah.
Ketenangan jiwa manusia bersumber dari hati.

Menurut Al-Ghazali ada tiga istilah yang pengertiannya sama, yaitu Qolbun, Nafsun, dan Roh.
Secara harfiah pengertian ketiga istilah tersebut berbeda.
Pengertian hati dalam ilmu Tasawuf dibagi menjadi empat:

a. Qolbun
Artinya bolak-balik, setiap waktu berubah-ubah.
Bagi orang yang belum mencapai hakekat, inilah yang disebut sebagai hati.
Perasaannya, jiwanya terombang-ambing oleh situasi dan kondisi yang ada.

b. Dlamirun
Artinya lubuk hati. Orang ini telah mengetahui pedoman hidup, telah mengetahui nilai-nilai kebenaran, tapi kadang-kadang ia bisa lepas kontrol dan tergelincir.

c. Fuadun
Artinya hati nurani. Orang yang bisa menerima kebenaran dan melaksanakannya di dalam setiap perbuatannya.

d. Sirrun
Artinya rahasia hati. Orang yang telah dibimbing oleh Allah.

Dalam kehidupan masyarakat kita sering bertemu dengan orang-orang yang mendapat barokah dari Allah dalam bentuk:

a. Orang yang meninggal dunia dengan tenang, khusnul khotimah.
b. Orang yang meninggalkan keturunan manusia-manusia yang saleh.
c. Orang-orang yang di masa tuanya senang walaupun di masa muda penuh kesulitan.
d. Orang-orang yang dalam kesulitan selalu mendapat pertolongan Allah.
e. Orang-orang yang menjalani hidup senantiasa dalam keadaan tenang-tenteram.
f. Orang-orang yang selalu dapat berbuat amal kebajikan dalam keadaan bagaimanapun dan di manapun.

Untuk mencapai keberkatan tersebut ada jalannya yaitu:

a. Memiliki keyakinan yang kokoh terhadap Allah SWT, rahmatnya, barokahnya.
b. Memiliki amalan-amalan dalam hidup, di antaranya tidak meninggalkan shalat lima waktu, dzikir wirid, shalat tahajjud, membaca serta menghayati bacaan-bacaan Alquran, Asmaul Husna, sholawat nabi.

.

Empat tingkatan pemahaman (maqom) agama

1. Pemahaman syariat
Syara'a artinya jalan, dapat dimaksudkan sebagai hukum, metode.
Syariat ini tertuang didalam hukum-hukum fikih yang harus dipahami dan dikerjakan sesuai dengan aturan-aturan yang ada.
Tingkatan kesadaran: ada milikku, ada milikmu.

2. Pemahaman tarekat
Thoraqo artinya jalan, perbedaannya dengan syara'a: kalau syara'a jalan di dalam kota, maka thoraqo jalan ke luar kota yang lebih panjang.
Oleh sebab itu, maka tarekat disebut juga jalan untuk memahami hakekat.
Orang yang menggunakan jalan ini disebut penganut tarekat, yang dipimpin oleh seorang guru tarekat.
Mereka yang memasuki tarekat berkehendak untuk mendapatkan ridha Allah, dan disebut al-muridin atau salik atau orang yang menuntut ilmu suluk.
Banyak sekali perkumpulan tarekat seperti Naqsabandiah, Qadiriah, Tijaniah, Sanusiah, dsb.
Pengikut tarekat melakukan wirid-wirid tertentu yang dibimbing oleh guru tarekat.
Tingkat kesadaran: milikku adalah milikmu dan milikmu adalah milikku.

3. Pemahaman hakekat
Haqqo artinya kebenaran.
Wujud dari kebenaran yang dapat dilihat adalah kejujuran, keadilan cinta kasih.
Pada tingkatan ini orang telah memahami makna ibadah yang dilakukan, misalnya sholat mencegah kemunkaran, makna berzakat, makna berpuasa, makna berhaji.
Tingkat kesadaran: tidak ada milikku, tidak ada milikmu - Semuanya milik Allah.

4. Pemahaman makrifat
Asal katanya arofa artinya tahu ; kenal pada Sang Pencipta.
Batinnya sudah dekat dengan Allah.
Semua gerakannya lillahitaala,
Terucap kata kata : Tuhan sedekat nadi di leher atau Ana al Haq. tidak ada aku, tidak ada kamu; yang ada hanyalah Allah.

Kalau Dunsanak setuju dengan pesan Tahu pada nan Empat ini, tolong di Like & Send atau di Tweet

Tweet

Kembali ke daftar judul     Kembali ke Halaman Utama