Halaman ini sudah dilihat oleh: 2584 orang,

tahudinanEmpat

Secara dialektika
manusia seutuhnya atau orang sebenar-benarnya orang,
adalah manusia yang Tahu di nan empat

Sistematikanya disusun sbb:

1. Tahu di diri
2. Tahu di orang
3. Tahu di alam
4. Tahu di Tuhan

Tahu di diri, ilmu untuk mengetahui diri.
Selain belajar kepada alam, maka tahu di diri adalah inti Falsafah Adat Alam Mianang Kabau.
Oleh karena itu beragam kata-kata untuk mengetahui diri harus dipahami benar maknanya:

berdiri, sendiri, pendiri, pendirian, harga diri, kehormatan diri, mawas diri, ingat diri, sadar diri, mengurus diri, malu diri, mandiri, bela diri, jati diri, kuasai diri, kenal diri, kenali diri, kendali diri, kendalikan diri, kemampuan diri, kemauan diri, menahan diri, menyiksa diri, tabahkan diri, ingat diri, jual diri, tak tahu diri, lupa diri, rendah diri, tak punya harga diri, tak sadar diri, tidak/kurang percaya diri, bunuh diri.

Man 'arofa nafsahu faqod 'arofa robbahu: Siapa yang mengenal dirinya, maka ia kenal pada Tuhannya.
Fikruka fiika yakfiika: Engkau memikirkan dirimu, mencukupi untukmu.

Hanya untuk mengetahui bentuk luar tubuh saja, kita memerlukan alat bantu cermin atau foto.
Sedangkan untuk mengetahui bagian dalam diperlukan alat-alat bantu lainnya seperti photo rontgen, U.S.G. dll.
Untuk mengukur kemampuan lainnya seperti fisik (kekuatan), status kesehatan, kemampuan ekonomi keuangan dan status pendidikan diperlukan perbandingan dengan angka-angka atau norma yang berlaku secara umum di tempat kita bermukim.
Perilaku diri, kepribadian, watak atau akhlak sungguh sulit untuk diukur sendiri.

Ahli ilmu jiwa atau psikolog memang dapat membuat kesimpulan sebagian sifat-sifat dan kecerdasan seseorang dengan Intellegence Quentient (IQ) dan Emotional Quentient (EQ).
Namun kesimpulan ini akan selalu berubah seperti kata pepatah, sekali ale gadang, sekali tepian berubah.
Artinya, tepian (tempat mandi di sungai) akan selalu berubah letaknya akibat adanya banjir.

Untuk menjaga supaya IQ, EQ, dan kesehatan diri tetap prima, maka setiap orang harus hidup secara sehat dan selalu mawas diri (mengawasi diri) atau ngrumangsani dalam bahasa Jawa.

Orang yang tak bisa mengetahui diri sendiri disebut orang lupa diri, tak tahu diri, tak punya harga diri, tak bisa mengukur diri, atau istilahnya bayang-bayang tak sepanjang badan.
Perbuatan orang ini dapat merugikan diri sendiri serta orang lain.
Hanya orang yang tahu di diri saja yang mampu mengetahui orang lain, alam dan Tuhannya secara objektif.
Falsafah Adat Alam Minang Kabau menuntut agar setiap orang tahu di diri dan tidak lupa diri.

Jalan yang ditempuh untuk tujuan ini dengan cara mengklasifikasi orang menjadi empat golongan (lihat: nan Empat golongan orang).
Setiap manusia akan selalu berusaha menjadi orang yang sebenarnya orang atau menjadi orang.
Manusia cenderung untuk bertingkah laku sesuai dengan apa yang dikonsepkan untuk dirinya sendiri.

Bila anda merasa dan menyatakan diri sebagai wong cilik yang tak berdaya, maka anda tak akan mampu menjadi wong gede atau orang besar (dewasa).
Anda tak akan pernah bisa menyelesaikan suatu permasalahan sebagaimana layaknya orang dewasa.
Suatu saat wong cilik bisa saja mengamuk apabila keinginannya tidak segera dipenuhi.

Berbeda dengan konsep wong cilik ini, maka konsep takah urang lebih manusiawi, karena pada dasarnya manusia itu sama.
Tidak ada yang lebih mulia kecuali yang lebih takwa. Bandingkan dengan ucapan Abraham Maslow: What a man can be, he must be.
Falsafah Adat Minang Kabau sangat mengutamakan konsep diri atau nubuat diri.
Apabila seseorang telah dewasa, ia tak boleh dipanggil nama saja.
Ia harus dipanggil lengkap dengan gelar yang sesuai martabat dan kedudukannya.

Kecil punya nama, besar punya gelar, atau ketek banamo gadang bagala.
Gelar ini menyiratkan konsep diri yang dikehendaki untuk si penyandang gelar.
Misalnya gelar untuk orang bagak berani Sutan Gampo Alam, Bagindo Batungkek Besi.

Gelar untuk alim ulama Pakia Surau di Subarang, Angku Siak Sati.
Gelar untuk penghulu Datuk Paduko Rajo di Bumi. Datuk Rajo Seleba Alam.
Menurut hadis, nama itu adalah doa.

Tahu di orang: Ilmu untuk mengetahui orang lain.
Sebagai makhluk sosial, kita tak bisa hidup sendirian, selalu membutuhkan bantuan orang lain.
Sejak lahir ke dunia sampai diantar ke liang kubur kita selalu dibantu oleh orang lain.
Mereka yang membantu adalah ibu, bapak, saudara, tetangga, sahabat, alat negara, orang asing dan sebagainya.
Pameo adat yang menyebutkan.
Duduk seorang bersempit-sempit, duduk bersama berlapang-lapang, atau Duduak surang basampik-sampik, duduk basamo balapang-lapang.

Orang yang hidupnya sendirian, akan mengalami kesempitan rezeki dan perasaannya.

Sebaliknya orang yang hidup bersama-sama dengan orang lain, banyak kawannya maka rezekinya akan mudah, dan perasaan hatinya akan lapang, gembira.
Untuk memudahkan berkomunikasi dengan orang lain kita harus mempunyai ilmu yang didapat saat merasa, seperti ilmu psikologi, antropologi dan sosiologi atau ilmu-ilmu yang dihasilkan oleh ranah rasa (otak kanan). Lihat sistematika ilmu pengetahuan.

Untuk mengetahui orang lain yang kita ajak berkomunikasi, diperlukan data-data tentang kebangsaan, suku, nama, usia/tanggal lahir, alamat, watak, akhlak, kesukaan dan lain sebagainya.
Hal ini penting karena menurut mamangan adat disebutkan:
Lain padang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya.

Artinya, lokasi atau tempat tinggal dapat membuat perbedaan sifat manusia.
Jenis pekerjaan seseorang juga dapat mempengaruhi cara orang tersebut ketika berkata-kata, sesuai dengan pepatah:

Kato alim, kato hakekat
Kato rang banyak, kato bagalau
Kato guru, kato pengajaran
Kato dubalang, kato mandareh

Beberapa sifat orang yang mempunyai konsep diri positif yaitu:

1. Mampu mengatasi permasalahan yang menimpa dirinya
2. Merasa diri takah (setara) dengan orang lain
3. Ketika menerima pujian, tidak merasa terbebani
4. Menghargai pendapat orang lain yang berbeda-beda
5. Mampu memperbaiki diri, dimana ada
kekurangan-kekurangan

Beberapa sifat orang yang mempunyai konsep diri negatif yaitu:

1. Sangat peka terhadap kritik, mudah marah, tidak mau berdialog secara terbuka, sangat kuat mempertahankan pendapatnya, cepat naik pitam.
2. Menyukai pujian
3. Hiper-kritis
4. Tidak pernah merasa bersalah
5. Tidak berani berkompetisi secara terbuka

Tahu di alam: Ilmu-ilmu tentang alam.
Karena pengertian alam sangat luas, maka ilmu tentang alam juga sangat banyak.

Jika bukan ilmu tentang Allah (ilmu Tauhid), maka pastilah ilmu tentang alam.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia membatasi ilmu alam, terbatas pada sifat benda tak bernyawa yang ada di sekitar kita. Meski sudah dibatasi ruang lingkupnya, tak urung sebagian besar waktu belajar di sekolah digunakan untuk mempelajarinya.
Adat Minang Kabau menggambarkan luasnya ilmu tersebut dengan pantun.

Kalau digulung selebar kuku
Kalau dikembang selebar alam
Walau sebesar biji labu
Bumi dan langit ada di dalam

Maksud mamangan di atas, meskipun benda yang akan dipelajari hanya sebesar biji labu, tetapi pembahasan atau ilmunya bisa sangat luas, seperti lebarnya bumi dan langit.
Dalam gurindam disebutkan pula:

Yang setitik jadikan laut
Yang sekepal jadikan gunung
Alam terkembang jadikan guru

Artinya manusia harus mengembangkan ilmu tentang benda-benda, meski volumenya hanya setitik air atau sekepal tanah.
Pengembangan manfaat suatu benda juga harus dilakukan untuk kepentingan hidup umat manusia.

Tahu di Tuhan: Ilmu tentang Allah (ilmu Tauhid)
Lihat nan Empat cara pengembaraan manusia menuju Tuhan-nya.
Pengertian tahu di Tuhan di sini sama dengan no. 4 pada judul tersebut, yaitu manusia yang ber-Tuhan.
Ilmu tentang Tuhan (ilmu Tauhid) membahas akidah-akidah agama dengan dalil-dalil yang jelas; termasuk sifat-sifat Allah SWT dan sifat-sifat rasul-Nya.

Zat Allah tidak boleh dibicarakan/dianalisa dengan akal, karena akal manusia itu terbatas.
Untuk mengetahui zat Allah, kita cukup mengetahui sifat-sifatNya yaitu:

1. wujud (ada)
2. qidam (tanpa ada permulaan)
3. baqa (kekal abadi)
4. mukhalafah lil hawadits (berbeda dengan makhluk)
5. qiyamuhu binafsih (tegak dengan sendiriNya)
6. wahdaniyah (esa)
7. hayah (hidup)
8. ilmu (tahu segala-galanya)
9. qudrah (berkuasa atas segalanya)
10. iradah (berkehendak)
11. sam'u (mendengar)
12. bashar (melihat)
13. kalam (ucapan/tidak membutuhkan lidah-mulut)

Jika telah mengetahui ketiga kelompok ilmu, yaitu tentang diri, tentang orang dan tentang alam, maka dengan sendirinya kita yakin bahwa semua ciptaan Allah ada tujuannya.

Dengan ilmu-ilmu tersebut kita dapat membuktikan (hakkul yakin) bahwa semua ciptaanNya serba teratur, serba serasi dan semuanya menyembah Sang Khalik, kecuali sebagian manusia dan jin yang menjadi pengikut setan.

Jika telah yakin tentang kekuasan Sang Pencipta, maka dengan sendirinya manusia yang diberi kemerdekaan berpikir akan tunduk mengikuti jalan lurus, jalan keselamatan yaitu Islam.

Bila ada manusia yang tidak tunduk dengan aturan Allah, artinya dia bukanlah manusia yang merdeka, karena rasa dan periksanya tidak menurut alur nan patut.

Kalau Dunsanak setuju dengan pesan Tahu pada nan ini, tolong di Like & Send atau di Tweet

Tweet

Kembali ke daftar judul     Kembali ke Halaman Utama