Halaman ini sudah dilihat oleh: 1221 orang,

"TAHU DI NAN AMPEK"
(idiom asli dari nenek moyang kita)

"Engkau tak akan tahu hendak menuju ke mana, apabila kamu tidak tahu datang dari mana" (John F. Kennedy).

Dalam percakapan sehari-hari di Ranah Minang sering ada orang-orang yang disebut sebagai: "orang yang tak tahu di nan Ampek"
Ciri-ciri orang yang "tak tahu nan Empat" ialah:

  • Tak paham tentang manfaat angka-angka bilangan atau tak mengerti penggunaan "tanda-tanda berhitung nan empat".
  • Dengan kata lain orang tersebut tak memahami dialektika yang dia ucapkan, tak memiliki logika dalam berbuat dan tidak punya sistematika ketika bekerja.

    Sering juga secara umum orang ini disebut sebagai "orang yang tak punya adat"
    Untuk mempermudah mengingat sifat-sifat seperti ini, lihatlah perilaku sehari-hari makhluk yang berkaki empat.

    Bilangan "empat" atau "nan Empat" merupakan simbolisasi terhadap pentingnya penggunaan angka-angka untuk membaca (iqra) alam terkembang yang dijadikan guru.

    Alam terkembang, diciptakan oleh yang Maha Kuasa sebagai makhluk "Islam" atau patuh kepada jalan lurus dengan kadar atau takaran yang dapat dihitung.
    Oleh sebab itu alam terkembang adalah kitabullah yang tidak tertulis
    Angka/bilangan adalah sesuatu nan Benar yang ditampakkan Tuhan kepada manusia.

    Tak ada manusia dari bangsa dan agama apapun yang mengingkari kebenaran angka-angka/bilangan.
    Dengan mengolah angka-angka, manusia mampu membaca serta memakmurkan alam, bahkan sekaligus juga bisa merusaknya.

    Manusia-manusia yang mampu membaca dan memakmurkan alam, dijanjikan Allah akan diberi pahala berlipat ganda sebagai bekal di akhirat nanti.

    Penemuan listrik, pesawat terbang, komputer, rekayasa genetika, astronomi dlsb. hanya dilakukan oleh orang-orang yang paham mengolah angka-angka bilangan.

    Kegiatan manusia yang melibatkan nilai-nilai "angka bilangan" saat melihat, mendengar, mencium, meraba, merasa dengan lidah/mengecap segala sesuatunya disebut sebagai "memeriksa" atau "periksa" atau "pareso".
    Orang secara otomatis akan menunjukkan bahasa tubuhnya, meraba keningnya pebila berpikir sungguh sungguh !
    Pengendali dari pareso ini berpusat di otak kiri.

    Sedangkan rasa atau perasaan adalah persepsi seseorang saat berinteraksi dengan alam sekitar yang tidak dapat dinilai dengan angka bilangan, sehingga ukurannya bersifat kualitatif.
    Kegiatan "merasa" atau "rasa" atau "raso" pusatnya di dada, hati, atau batin.
    Semua orang secara otomatis akan menunjukkan bahasa tubuhnya, bersedekap tangan ke dada !

    Raso harus segera dibawa naik ke otak kanan, karena otaklah yang dapat dapat menilainya dengan angka-logika di otak kiri tadi.
    Raso dibawa naik, pareso dibawa turun

    Kalau Dunsanak setuju dengan pesan Tahu pada nan ini, tolong di Like & Send atau di Tweet

    Kembali ke daftar judul     Kembali ke Halaman Utama