Halaman ini sudah dilihat oleh: 1597 orang,

RASO dengan PARESO
Adalah sumber ilmu pengetahuan

Bahasa verbal yang diucapkan & dimaksudkan seseorang, sering ditafsirkan berbeda oleh pendengarnya, termasuk pula dalam hal memahami penafsiran kitabullah yang tertulis (kitab suci agama-agama).

SULIT PAHAMNYA BERKATA-KATA
PARESO YANG TAMPAK, RASO NAN DISIMPAN
SERING TERJADI SILANG SENGKETA
KARENA KELIRU MEMAHAMI UCAPAN

Itulah sebabnya Tuhan memberikan dua macam hidayah yang dapat dipahami oleh seluruh umat manusia dengan bahasa tubuh masing-masing.
Kedua bahasa tubuh atau hidayah ini, secara dialektika disebut sebagai rasa dan periksa.
Karena tempat penerimaan hidayah ini terpisah, maka ketika ia digunakan keduanya harus digabung dengan menggunakan adagium-adagium atau dialektika sbb:


JADILAH MANUSIA, SEBENAR-BENARNYA ORANG
FUNGSIKAN OTAK KIRI, AKTIFKAN OTAK KANAN
GUNAKAN PERASAAN, LAKUKAN PEMERIKSAAN
PAKAILAH ETIKA, GUNAKAN LOGIKA
MILIKI IMTAK, RAIHLAH IPTEK
KERJAKAN ZIKIR, LAKUKAN FIKIR
AMANU WA AMILU SHOLIHATI
AQIMU SHOLATA WA ATUZ ZAKATA
HABLUM MIN ALLAH WA HABLUM MIN ANNAS


Kalimat itu semua diringkas dalam petuah oleh nenek moyang kita:

RASA DIBAWA NAIK, PERIKSA DIBAWA TURUN

Perasaan atau raso yang semula berada di hati atau di dada, harus dibawa naik ke otak kanan.

Kata-kata kasihan, cinta, sayang, takut, gentar, berani, berkuasa, benar, capek, setia, malu, tanggung-jawab, setia-kawan, percaya, dst. hanya dapat dipahami oleh otak/kesadaran kita, setelah didepannya dibubuhi kata rasa

Termasuk pula "perasaan birahi" jangan langsung dibawa ke arah bagian bawah tubuh karena di bagian bawah tubuh tsb. secara rutin kotor fisiknya dan merupakan suatu organ khusus yang diberikan Tuhan.
Organ-organ tersebut tak boleh digunakan tanpa perencanaan dan kendali.

Apabila tidak ada penyakit atau kelainan pada alat reproduksi tersebut, maka pemakaiannya secara otomatis akan "menghasilkan manusia, penghuni baru di dunia".
Oleh sebab itu orang sering menyebutnya sebagai "alat vital".
Dipakainya organ tersebut seharusnya, setelah perasaan birahi tersebut dibawa naik dahulu ke otak untuk dinilai dengan bit-bit informasi yang ada di situ.

Sedangkan hasil aktivitas sesuatu yang dipandang mata, didengar telinga, dibau hidung, diraba kulit agar diturunkan nilai angka bilangan kuantitatifnya dari otak kiri, sehingga kita paham terhadap apa-apa yang dilihat, didengar, dibaui, diraba tsb.

"Nan Empat" bukanlah ajaran/falsafah doktriner yang menggantungkan pada pemikiran satu orang manusia, tetapi merupakan hasil dari pandangan hidup kebersamaan kita yang memfungsikan dada dan kepala (otak kanan dan otak kiri).
Marilah kita dialogkan bersama-sama, karena demikianlah perilaku yang diwariskan moyang kita.
Di dalam situs ini setiap judul diberi pesan-pesan berbentuk esei ataupun pantun, petuah, peribahasa, mamangan yang biasa dipakai ketika bertutur oleh orang yang menggunakan rasa-periksa.

  • Rasa yang nilainya bersifat subjektif-kualitatif dalam praktek menghasilkan dua macam "ilmu induk" yaitu "ilmu bahasa" dan "ilmu budaya sosial"

  • Periksa yang nilainya bersifat objektif-kuantitatif dalam praktek menghasilkan "ilmu makhluk bernyawa atau biologi" dan "ilmu makhluk tak bernyawa atau ilmu fisika"

    Selanjutnya manusia yang memahami keempat ilmu induk ini disebut sebagai orang yang tahu di nan empat atau tahu di adat.

    Kalau Dunsanak setuju dengan pesan Tahu pada nan ini, tolong dilewakan

    Kembali ke daftar judul     Kembali ke Halaman Utama